Metaverse, Jangan Hingga Menggoyahkan Pondasi Keimanan

Dikala pemerintah Saudi menghasilkan gagasan buat memperkenalkan Ka’ bah di Masjidilharam secara metaverse, aku menyambutnya dengan gembira. Betapa tidak, aku telah membayangkan bisa mengajak kanak- kanak melancong secara virtual ke salah satu masjid yang sangat dianjurkan buat didatangi umat Islam.

Dalam bayangan aku, dikala melancong virtual ke situ, kami bisa mengenalkan tempat- tempat di dekat Ka’ bah sekalian menggambarkan proses ibadah yang dicoba. Miriplah dengan manasik haji yang sempat mereka jalani di sekolah, cuma saja lebih mutahir sebab menggunakan teknologi. Lewat metaverse, kanak- kanak bisa memandang serta merasakan secara langsung keadaan sesungguhnya di tanah suci. Untuk aku, perihal itu sangat menolong. Kanak- kanak bisa memaksimalkan keahlian belajarnya lewat pengalaman secara visual.

Tetapi, aku sangat kaget dikala setelah itu mengenali kalau gagasan metaverse tersebut setelah itu hendak digunakan buat melaksanakan ibadah secara virtual. Ibadah haji dilaksanakan secara metaverse. Lo, kok dapat? Yang aku pahami, ibadah itu wajib dicoba cocok dengan sunnah. Cocok contoh dari Rasulullah Saw..

Proyek metaverse yang digagas pemerintah Saudi tersebut diluncurkan akhir Desember 2021 serta diberi nama Virtual Black Stone Initiative. Kabarnya, Imam Besar Masjidilharam Sheikh Abdul Rahman al- Sudais merupakan orang awal yang mendatangi Ka’ bah metaverse itu. Proyek yang dikerjakan lewat kerja sama dengan Universitas Ummul Quro itu bertujuan buat berikan peluang pada umat Islam supaya bisa memegang Hajar Aswad, walaupun dicoba secara virtual.

Kenapa Hajar Aswad? Untuk umat Islam yang sempat mendatangi Ka’ bah pasti bisa membayangkan betapa sulitnya mendekati Hajar Aswad, terlebih memegang serta menciumnya. Apabila sukses mencium juga, belum pasti bisa memandang serta mengamati dengan jelas wujud Hajar Aswad sebab posisinya yang menjorok ke dalam serta terlindungi. Seperti itu kenapa aku sangat bahagia dikala proyek metaverse diluncurkan.

Rasa bahagia aku sesungguhnya senada dengan tujuan pemerintah Saudi. Bersumber pada apa yang aku tangkap, metaverse bertujuan memperkenalkan peninggalan, sejarah, serta aset Islam supaya lebih banyak umat yang dapat belajar. Teknologi digital berpotensi menggapai tujuan tersebut.

Untuk aku, tidak terdapat yang salah dengan proyek metaverse sepanjang tujuannya merupakan buat belajar ataupun melancong. Metaverse merupakan konsep dunia virtual yang mencampurkan teknologi virtual reality serta augmented reality. Pasti saja, metaverse bisa digunakan buat aktivitas belajar apapun dengan metode yang lebih seru serta mengasyikkan. Lewat konsep metaverse, orang- orang bisa berjumpa serta bermain secara virtual.

Untuk aku, melakukan ibadah haji absolut wajib berangkat langsung ke tanah suci. Apabila setelah itu Kementerian Urusan Agama Islam Turki( Diyanet) serta MUI memutuskan kalau mendatangi Ka’ bah di metaverse tidak dapat dikira selaku ibadah haji, untuk aku itu cuma penguatan saja.

Tetapi, perihal ini jadi bahan renungan untuk aku. Perihal yang untuk aku mustahil hendak dikatakan selaku ibadah, apalagi terpikirkan juga tidak, nyatanya berbeda dengan pemikiran orang lain. Aku juga jadi berpikir ulang menimpa metaverse ini. Bukan. Bukan teknologinya yang salah. Pertumbuhan teknologi pasti bermaksud buat memudahkan seluruh aktivitas kita‘ kan? Tetapi, aku wajib berpikir ulang menimpa waktu, metode, serta tujuan yang pas buat memperkenalkan metaverse pada kanak- kanak. Aku juga wajib siap mendampingi serta menanggapi seluruh persoalan mereka nanti.

Suatu yang nyatanya biasa serta hendak memudahkan, nyatanya tidak semudah itu efeknya. Aku tidak dapat membayangkan apabila anak sayalah yang berpikir kalau mendatangi Masjidilharam secara metaverse setara dengan beribadah. Gimana aku nanti wajib meluruskan lagi pemahamannya tentang ibadah. Aku bersyukur mendengar kabar“ aneh” tersebut dikala ini. Dikala aku masih mempunyai waktu buat menguatkan uraian agama serta menuntun mereka supaya mempunyai akidah yang lurus.

Pasti aku juga tidak dapat menjauhkan mereka dari teknologi. Mereka lahir dikala teknologi terdapat dalam genggaman. Berupaya menjauhkan mereka dari teknologi sama dengan menjauhkan mereka dari aku. Lebih baik mengenalkan serta terus mendampingi. Otomatis, aku juga tidak boleh katro dengan kemajuan teknologi.

Sesungguhnya, tidak cuma metaverse yang membuat akidah seorang tergadaikan. Apalagi perihal simpel semacam air yang berganti warna juga bisa jadi pengaruh. Cuma saja, sebab senantiasa terjalin selama sejarah manusia, tidak berlarut jadi polemik. Metaverse dikira berbeda sebab ialah perihal baru serta berhubungan dengan teknologi.

Intinya, aku wajib menguatkan pondasi kanak- kanak. Metaverse cuma salah satu teknologi yang bisa membuat pondasi itu goyah. Esok entah terlebih yang hendak mereka hadapi. Aku wajib dapat menolong mereka melaksanakan hidup yang berjalan dengan kilat tanpa meninggalkan agama selaku akidah serta pondasinya. Untuk aku, agamalah yang hendak membimbing mereka dalam kehidupan, di mana juga terletak serta dalam keadaan apapun pula. Tidak bisa jadi dipisahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.